BAB 3 Desain Pekerjaan dan Analisis Pekerjaan
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Manajemen sumber daya manusia adalah
suatu proses menangani berbagai masalah pada ruang lingkup tenaga kerja baik
karyawan, pegawai, buruh, manajer dan lainnya untuk dapat menunjang aktivitas
perusahaan demi mencapai tujuan yang telah ditentukan. Bagian atau unit yang
biasanya mengurusi SDM adalah departemen sumber daya manusia atau dalam bahasa
inggris disebut HRD atau human resource department bahkan ada yang menyebutnya
HCD atau Human Capital Division.
Menurut A.F. Stoner manajemen sumber
daya manusia adalah suatu prosedur yang berkelanjutan yang bertujuan untuk
memasok suatu organisasi atau perusahaan dengan orang-orang yang tepat untuk
ditempatkan pada posisi dan jabatan yang tepat pada saat organisasi
memerlukannya.
Manajemen sumber daya manusia juga
menyangkut desain sistem perencanaan, penyusunan karyawan, pengembangan
karyawan, pengelolaan karier, evaluasi kinerja, kompensasi karyawan dan
hubungan ketenagakerjaan yang baik. Manajemen sumber daya manusia melibatkan
semua keputusan dan praktik manajemen yang memengaruhi secara langsung sumber
daya manusianya.
1.2 Rumusan
Masalah
1. Bagaimanakah
Elemen-Elemen Disain Pekerjaan Mahasiswa ?
2. Bagaimanakah
Trade-Off Keperilakuan Dan Efisiensi Mahasiswa ?
3. Apakah
Pengertian Dari Analisis Pekerjaan ?
4. Apakah
Arti Dari Pentingnya Analisis Jabatan ?
5. Apakah
Tujuan Dari Analisis Pekerjaan ?
6. Apakah
Langkah-Langkah Utama Dalam Analisis Pekerjaan ?
7. Apakah
Jenis Analisis Pekerjaan ?
8. Apakah
Sifat Dari Analisis Jabatan ?
9. Bagaimanakah
Metode Mengumpulkan Informasi Analisis Jabatan ?
10. Bagaimanakah
Klasifikasi Pekerjaan (Job Classification) ?
11. Bagaimanakah
Politik Reklasifikasi (The Politics Of Reclassification) ?
1.3 Tujuan
Masalah
1. Untuk
mengetahui Elemen-Elemen Disain Pekerjaan Mahasiswa.
2. Untuk
mengetahui Trade-Off Keperilakuan Dan Efisiensi Mahasiswa.
3. Untuk
mengetahui Pengertian Dari Analisis Pekerjaan.
4. Untuk
mengetahui Arti Dari Pentingnya Analisis Jabatan.
5. Untuk
mengetahui Tujuan Dari Analisis Pekerjaan.
6. Untuk
mengetahui Langkah-Langkah Utama Dalam Analisis Pekerjaan.
7. Untuk
mengetahui Jenis Analisis Pekerjaan.
8. Untuk
mengetahui Sifat Dari Analisis Jabatan.
9. Untuk
mengetahui Metode Mengumpulkan Informasi Analisis Jabatan.
10. Untuk
mengetahui Klasifikasi Pekerjaan (Job Classification).
11. Untuk
mengetahui Politik Reklasifikasi (The Politics Of Reclassification).
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Elemen-Elemen
Disain Pekerjaan Mahasiswa
1. Elemen organisasional
Elemen-elemen organisasional pada desain
pekerjaan bersangkutan dengan efisiensi. Pekerjaan-pekerjaan yang dirancang
secara efisien. Kemudian mendorong karyawan yang mampu dan termotivasi untuk
mencapai keluaran maksimum. Elemen-elemen organisasional mencakup pendekatan
mekanistik, aliran kerja, dan praktek-praktek kerja.
2. Elemen lingkungan
Aspek kedua desain pekerjaan berkaitan
dengan elemen-elemen lingkungan. Seperti hampir dalam semua kegiatan
personalia, para perancang pekerjaan tidak dapat mengabaikan pengaruh
lingkungan eksternal.
Elemen-elemen lingkungan pokok dalam
perancangan pekerjaan-pekerjaan adalah
kemampuan dan tersedianya karyawan potensial, dan
pengharapan-pengharapan sosial.
3. Elemen keperilakuan
Ada beberapa elemen keprilakuan yang
perlu dipertimbangkan dalam desain pekerjaan yaitu :
1. Otonomi
yang berarti mempunyai tanggung jawab atas apa dilakukan.
2. Variasi
yang apabila kurangnya variasi pekerjaan maka akan menimbulkan
kebosanan, selanjutnya menimbulkan kelelahan sehingga timbul
kesalahan-kesalahan
3. Identitas
tugas, bila pekerjaan tidak mempunyai identitas menimbulkan karyawan
kurang tanggung jawab atau kurang puas atas hasil pekerjaannya
4. Umpan
balik, bila pekerjan memberikan umpan balik atas seberapa baik pekerjaan maka
karyawan termotivasi untuk melaksanakan dengan baik.
2.2 Trade-Off
Keperilakuan Dan Efisiensi Mahasiswa
Pengertian
efisiensi yaitu perbandingan antara keluaran dengan pemasukan. Unsur-unsur
efisiensi akan membentuk spesialisasi yang tinggi, mengurangi perbedaan atau
variasi, meminimumkan otonomi dan unsur-unsur kontradiktif lainnya.
Trade
off
yang dihadapi oleh pare perancang pekerjaan perusahaan yaitu:
·
Produktivitas versus spesialisasi:
Tambahan
spesialisasi akan menaikkan output sampai pada titik tertentu, apabila ada
kenaikan spesialisasi maka output mengalami penurunan, karena adanya kebosanan
atas pelaksanaan tugas yang terus menerus. Output dapat ditingkatkan dengan
mengurangi spesialisasi pekerjaan.
·
Kepuasan kerja versus spesialisasi:
Kepuasan
kerja akan meningkat sejalan dengan kenaikan spesialisasi, dan tambahan
tambahan spesialisasi mengakibatkan kepuasan kerja akan menurun. Pekerjaan
tanpa spesialisasi membuat karyawan membutuhkan waktu lama untuk mempelajari
pekerjaan tersebut sampai mampu untuk melakukannya. Kepuasan kerja akan menurun
karena kurangnya otonomi, variasi dan identitas tugas. Produktivitas terus naik
bile kebaikan spesialisasi lebih besar daripada kelemahan akibat ketidakpuasan.
·
Proses belajar versus spesialisasi:
Pekerjaan
yang sangat terspesialisasi lebih mudah dipelajari dibandingkan dengan
pekerjaan yang tidak terspesialisasi. Proses belajar pada pekerjaan yang
terspesialisasi lebih cepat mencapai standar (ditunjukkan oleh garis
putus-putus). Pekerjaan yang tidak terspesialisasi memerlukan waktu lebih lama
untuk dipelajari.
·
Perputaran karyawan versus
spesialisasi:
Spesialisasi
pekerjaan dapat dengan mudah dan cepat dipelajari, tapi biasanya kepuasan yang
diperoleh lebih rendah, kepuasan yang rendah ini akan menyebabkan tingkat
perputaran tenaga keda tinggi (turn over manpower).
2.3 Pengertian
Dari Analisis Pekerjaan
Analisis
pekerjaan adalah menepatkan orang yang tepat pada suatu pekerjaan tertentu,
sesuai dengan kemampuan,keahlian dan pengalaman dalam melakukan suatu
pekerjaan. Pada hakikatnya semua orang menduduki jabatan manajerial atau
pejabat negara sekalipun adalah sumber daya manusia juga. Berarti dalam suatu
organisasi atau negara diperlukan keberadaan sekelompok orang-orang analisis
pekerjaan yang bertugas melakukan analisis terhadap suatu atau semua pekerjaan
yang ada.
Menurut Siagian (2000) pengertian analisis
pekerjaan adalah usaha sistematik dalam mengumpulkan,
menilai dan mengorganisasikan senua jenis pekerjaan yang terdapat dalam suatu
organisasi.
Menurut Flippo (2000) analisis pekerjaan adalah
proses mempelajari dan mengumpulkan informasi yang berhubungan dengan operasi
dan tanggung jawab suatu pekerjaan tertentu. Dengan demikian ada hubungan yang
erat antara desain pekerjaan dengan analisis pekerjaan. Tanpa analisis
pekerjaan maka tidak akan dapat mengadakan desain pekerjaan. Analisis pekerjaan
sangat dibutuhkan dalam mendesain pekerjaan di dalam perusahaan.
Analisis pekerjaan merupakan proses pengumpulan
informasi mengenai suatu pekerjaan yang dilakukan oleh seorang pekerja, yang
dilaksanakan dengan cara mengmati atau mengadakan interview terhadap pekerja,
dengan bukti-bukti yang benar dari supervisor.
2.4 Arti
Pentingnya Analisis Jabatan
2.5 Tujuan
Analisis Pekerjaan
Menurut
Sastrohadiwirjo mengatakan bahwa tujuan analisis pekerjaan yaitu:
1. Memperoleh
tenaga kerja pada posisi yang tepat
2. Memberikan
kepuasan pada diri tenaga kerja
3. menciptakan iklim
dan kondisi kerja yang kondusif
Tindakan-tindakan
yang diperlukan oleh managemen SDM untuk mencapai tujuan yang didasarkan pada
informassi analisi pekerjaan adalah :
1. Evaluasi peran
lingkungan terhadap pekerjaan individu.
2. Kaji kembali
kemungkinan ada persyaratan kerja yang usang.
3. Ciptakan
peraturan yang dapat menguntugkan semua pihak.
4. Rancang
kebutuhan SDM masa depan.
5. Sesuaikan
antara jumlah pelamar dan pekerjaan yang tersedia.
6. Rancang kebutuhan
pendidikan dan pelatihan untuk karyawan baru maupun karyawan yang sudah
berpengalaman.
7. Ranvcang
rencana pengembangan potensi karyawan.
8. Tentukan
standar kerja/prestasi yang realistis.
9. Penempatan karyawan
hendaknya sesuai dengan minatnya.
10.
Penempatan
karyawan sesuai dengan ahlinya.
11.
Berikan
kompensasi secara wajar.
Menurut Gomes
(2003;92) Ada 12 tujuan analisis pekerjaan yang digunakan oleh sektor publik
maupun sektor swasta, yaitu:
1.
Job
description, yaitu untuk mengidentifikasikan pekerjaan, riwayat pekerjaan,
kewajiban-kewajiban pekerjaan, dan pertanggung jawaban, serta untuk mengetahui
spesifikasi pekerjaan atau informasi mengenai standar pekerjaan.
2.
Job
classification, yaitu penyusunan pekerjaan-pekerjaan kedalam kelas-kelas,
kelompok-kelompok, atau jenis-jenis berdasarkan rencana sistematika tertentu
3.
Job
evaluation, yaitu suatu prosedur pengklasifikasian pekerjaan berdasarkan
kegunaan masing-masing di dalam organisasi dan dalam pasar tenaga kerja luar
yang terikat
4.
Job
desinng restructuring, yaitu meliputi usaha-usaha untuk mengalokasikan dan
merestrukturisasi kegiatan pekerjaan kedalam berbagai kelompok
5.
Personel
requirement, yaitu berupa persyaratan atau spesifikasi tertentu bagi
suatu pekerjaan
6.
Performance
appraisal, yaitu merupakan penilaian sistematis yang dilakukan oleh supervisor
terhadap performansi pekerjaan dari para pekerja
7.
Worker
training, yaitu pelatihan yang ditujukan kapada para pekerja
8.
Worker
mobility, yaitu dinamika keluar-masuknya seseorang dalam posisi,
perkerjaan-pekerjaan, dan okupasi-okupasi tertentu
9.
Efficiency,
ini mencangkup penggabungan proses kerja yang optimal dan rancangan keamanan
dari peralatan dan fasilitas, serta prosedur kerja, susunan kerja dan standar
kerja
10.
Safety,
berfokus pada identifikasi dan peniadaan perilaku kerja yang tidak aman,
kondisi fisik dan kondisi lingkungan
11.
Human
resource planning, kegiatan antisipasi dan reaktif melalui suatu organisasi
12.
Legal,
aturan dan ketentuan lain yang berkaitan dengan organisasi.
2.6 Langkah-Langkah
Utama Dalam Analisis Pekerjaan
Ada beberapa
langkah yang harus ditempuh dalam analisis jabatan.:
1. Tentukan lebih
dulu tugas-tugas pokok yang harus ada dalam jabatan itu, termasuk didalamnya
perilaku dan aktivitas yang melekat pada jabatan itu.
2. Mengidentifikasi knowledge,
abilities, skills, dan other characteristics
(KASOCs) yang
diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas itu.
a. Knowledge
berarti seperangkat informasi yang ada di dalam prosedur yang harus diterapkan
dalam pekerjaan itu.
b. Abilities berarti
kompetensi untuk menghasilkan hasil yang bisa diamati. Misalnya: kemampuan
seorang pengetik yang baik adalah menghasilkan ketikan yang rapi dan tidak
banyak salahnya.
c. Skill berarti
kompetensi untuk melakukan tindakan yang bisa dipelajari, baik yang sifatnya
motorik, verbal, manual, atau melakukan pengolahan mental yang menyangkut data,
orang atau barang.
d. d.Other
characteristics meliputi faktor kepribadian, sikap, atau watak yang
diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan. Laporan analisa jabatan untuk seorang
perwira patroli jalan raya mungkin berupa pengetahuan hukum, komunikasi lisan
yang baik, kemampuan menyopir yang trampil, dan keterandalan untuk melaksanakan
tugasnya dengan cukup baik
2.7 Jenis
Analisis Pekerjaan
1.
Analisis
Pekerjaan Tradisional (Traditional Job Analysis)
Model
tradisional ini hanya mencari informasi sekitar tiga aspek, antara lain
tanggung jawab yang merinci unit organisasi kepada mana suatu kedudukan harus
bertanggung jawab, harus tunduk kepada pengarahan dan bagian pelaksanaan,
kewajiban-kewajiban umum dari seseorang yang sedang memegang suatu kedudukan,
kualifikasi-kualifikasi minimal yang diterima sebagai kelayakan.
2.
Analisis
Pekerjaan yang beroreientasi hasil (Ersult-oriented Jobs Description atau RODS)
Analisis
pekerjaan yang berorientasikan hasil ini merupakan suatu kehidupan kecil di
dalam program-oriented budget yang bermanfaat bagi produktivitas.
Analisis pekerjaan jenis ini
berasumsi bahwa uraian pekerjaan akan menjadi lebih bermanfaat jika uraian
pekerjaan tersebut memperjelas harapan-harapan organisasi kepada para pekerja,
dan keterkaitan antara tugas-tugas, standar-standar, kecakapan-kecakapan, dan
kualifikasi-kualifikasi minimal. Oleh karena itu, analisis pekerjaan ini memuat
keterangan-keterangan yang berkisar pada pertanyaan-pertanyaan, seperti:
a.
Tasks.
Perilaku, kewajiban, atau fungsi apa
yang penting bagi suatu pekerjaan?
b.
Conditions. Bagaimana sifat dasar daripada
pekerjaan, atau syarat-syarat apa yang diperlukan agar pekerjaan itu
terlaksana, biasanya mudah atau sulit? Petunjuk tertulis apa atau
instruksi-instruksi supervisor apa yang tersedia untuk membantu pekerja dalam
melaksanakan suatu tugas tertentu?
c.
Standards. Harapan-harapan performansi
obyektif apa yang diberikan pada setiap tugas, yang dituangkan menurut
ketentuan standar kuantitas, kualitas atau ketepatan waktu, yang benar-benar di
kaitkan dengan tujuan organisasi?
d.
SKAs,
(Skills, Knowledges, and Abilities). Kecakapan-kecakapan apa, pengetahuan, pengetahuan dan
kemampuan-kemampuan apa yang yang dibutuhkan untuk melaksanakan setiap tugas
pada standar minimal yang di terima?
e.
Qualifications.Pendidikan dan pengalaman yang
bagaimana, serta kualifikasi-kualifikasi lain yang bagaimana yang dibutuhkan
untuk memastikan bahwa para pekerja mempunyai SKAs yang diperlukan bagi
pelaksanaan tugasnya.
Uraian pekerjaan yang
berorientasikan hasil menguraikan harapan-harapan organisasi yang jelas kepada
para pekerja dan sekaligus mendorong para supervisor dan pekerja untuk
mengetahui bahwa baik standar maupun imbalan tergantung pada
persyaratan-persyaratan.
SKAs terkait dengan performansi
tugas, dan kualifikasi-kualifikasi minimal dikaitkan dengan SKAs dengan
menggunkan metode penilaian isi (content). Oleh karena standar
performansi berubah-ubah maka adalah mungkin bahwa SKAs akan berubah memenuhi
gaya, seperti kualifikasi minimal.
Uraian pekerjaan yang berorientasikan hasil memusatkan perhatian pada
standar-standar performansi, persyaratan apa yang membedakan pekerjaan, dan
kaitan-kaitan antara standar-standar, SKAs, dan kualifikas-kualifikasi. Model
ini banyak membantu untuk menyelesaikan permasalahan-permaalahan yang terdapat
pada uraian pekerjaan radisional.
2.8 Sifat
Dari Analisis Jabatan
Definisinya : Prosedur
untuk menetapkan tugas & tuntutan ketrampilan dari suatu jabatan dan orang
macam apa yang akan dipekerjakan untuk itu.
Melalui analisis jabatan diperoleh
informasi:aktivitas kerja, perilaku manusia, mesin-alat-perlengkapan-bantuan
kerja yang digunakan, standar kinerja, konteks jabatan & tuntutan manusiawi
Kegunaan dari Informasi analisis
jabatan : perekrutan & seleksi, kompensasi, penilaian kinerja, pelatihan
dan memastikan pengangkatan yang lengkap atas semua tugas
Langkah-langkah dalam analisis
jabatan : Identifikasi pemakaian atas informasi, meninjau informasi latar
belakang, pilih posisi untuk dianalisis, analisa, klarifikasi informasi dgn
pemegang jabatan, dikembangkan.
2.9 Metode
Mengumpulkan Informasi Analisis Jabatan
METODE ANALISIS JABATAN
·
Kuestioner
·
Observasi
·
Wawancara
·
Catatan
kerja(logbook)
·
Kombinasi
Untuk memperolah informasi analisis
pekerjaan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Metode yang umum digunakan
dalam mengumpulkan informasi adalah observasi, wawancara, dan angket.
1. Metode
Observasi
Metode observasi adalah metode yang
digunakan dalam mengumpulkan informasi dengan mengamati individu yang melakukan
pekerjaan itu dan mencatatnya untuk menguraikan tugas dan kewajiban yang
dilakukannya. Metode observasi sangat tepat jika dilakukan pada jenis pekerjaan
yang bersifat pengulangan. Penggunaan metode observasi memungkinkan analisis
dilakukan dekat dengan suasana pekerjaan dilapangan. Walaupun sifatnya
pengamatan, namun tidak seharusnya analis mengamati secara kontinyu
perkembangan dari waktu ke waktu. Penggunaan work sampling dan employee
diary/log.
2. Metode
Wawancara
Pekerja diseleksi dan diwawancara
secara langsung ditempat pekerjaan meraka atau mereka yang terkait langsung
dengan pekerjaan yang dianalisis. Tiga jenis wawancara dapat digunakan untuk
mengumpulkan data analisis jabatan, yaitu wawancara individual, wawancara
kelompok, dan wawancara penyelia (Dessler : 1997). Dalam beberapa keadaan,
seperti pekerjaan yang diarahkan oleh tim, dapat juga digunakan wawancara
kelompok. Salah satu kelemahan metode wawancara adalah sangat memakan waktu,
khususnya jika pewawancara berbicara dengan dua atau tiga pegawai yang
melakukan setiap pekerjaan.
3. Metode
Angket
Dengan mengunakan angket, yang
bersangkutan diminta untuk memberikan data-data mengenai jabatannya dangan
kata-kata sendiri. Analis meminta karyawan mengisi kuisioner untuk
menggambarkan tugas-tugas yang berkaitan dengan jabatan dan tanggung jawab
mereka. Keuntungan utama dari metode kuisioner angket adalah informasi atas
sejumlah pekerjaan dapat dikumpulkan secara murah dan dalam waktu yang relative
singkat. Sebaliknya, metode angket memerlukan waktu yang lama untuk menguji
kuisioner tersebut.
2.10 Klasifikasi
Pekerjaan (Job Classification)
Klasifikasi
pekerjaan merupakan proses pengkategorisasian kedudukan sesuai dengan jenis
kerja yang dilakukan, jenis kecakapan yang dibutuhkan, atau factor lainnya yang
berkaitan dengan kerja. Klasifikasi mempermudah analisis pekerjaan karena
klasifikasi berarti uraian pekerjaan, dan standar kualifikasi yang dibakukan
dapat dirumuskan untuk sekumpulan posisi. Pekerjaan sebenarnya merupakan
sekumpulan kedudukan yang sangat mirip sesuai dengan tugas-tugas dan
kualifikasi-kualifikasi untuk pembenaran keberadaannya seperti ditetapkan dalam
uraiana pekrjaan
Ada dua jenis
kualifikasi yang umum dipakai, yakni :
1.
Pekerjaan-pekerjaan
dibagi ke dalam klasifikasi-klasifikasi okupasi yang umum
2.
Dalam
setiap klasifikasi okupasi yang umum, pekerjaan-pekerjaan dibedakan menurut
tingkat anggung-jawabnya.
Sistem
klasifikasi untuk semua pekerjaan,baik disektor public maupun swata, didasarkan
pada beberapa faktor:
1.
Masukan
informasi, Dimana dan bagaimana si pekerja memperoleh informasi yang diperlukan
untuk pelaksanaan pekerjaan.
2.
Proses-proses
mental, Pertimbangan apa yang ditekankan dalam pembuatan keputusan, perencanaan
dan aktivitas-aktivitas proses informasi apa yang dilibatkan dalam pelaksanaan
pekerjaan.
3.
Output
pekerjaan, Aktivitas-aktivitas fisik apa yang dilakukan oleh para pekerja, dan
alat-alat apa yang dipakai oleh para pekerja?
4.
Relasi
dengan orang, Relasi dengan orang lain yang bagaimana yang dituntut dalam
pelaksanaan pekerjaan?
5.
Konteks
pekerjaan, Dalam konteks fisik dan social apa pekerjaan dilaksanakan?
6.
Metode-metode
kerja, Metode-metode atau teknik-teknik apa yang digunakan untuk pelaksanaan
pekerjaan?
7.
Ciri-ciri
pekerja, Ciri-ciri kepribadian atau kemampuan-kemampuan apa yang dibutuhkan
untuk pelaksanaan pekerjaan?
2.11 Politik
Reklasifikasi (The Politics Of Reclassification)
Daya
tangkap politik mempengaruhi fungsi-fungsi alokasi dari analisis pekerjaan
dengan cara mendeskripsikan ramifikasi politik mengenai dua jenis keputusan
reklasifikasi, yaitu: (a) reklasifikasi yang menyebabkan perubahan dalam gaji,
dan (b) reklasifikasi yang menyebabkan perubahan status dari suatu posisi
pelayanan sipil yang telah diklasifikasikan dalam unit hasil kompromi bersama
keposisi yang dikecualikan atau di luar unit kompromi. (Gomes, 2003, hal. 103)
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Herjanto (2001)
menjelaskan bahwa desain pekerjaan adalah rincian tugas dan cara pelaksanaan
tugas atau kegiatan yang mencakup siapa yang mengerjakan tugas, bagaimana tugas
itu dilaksanakan, dimana tugas dikerjakan dan hasil apa yang diharapkan
Salah satu
kegiatan penting yang dilakukan dalam manajemen sumber daya manusia khususnya
dalam fungsi perencanaan yaitu analisis pekerjaan. Dengan menganalisis suatu
pekerjaan, akan diketahui tugas-tugas apa yang akan dilakukan dalam pekerjaan
itu, apa kompetensi-kompetensi yang harus dikuasai oleh sumber daya manusia
yang akan menduduki posisi itu. Analisis pekerjaan adalah informasi tertulis
mengenai pekerjaan apa saja yang harus dikerjakan dalam suatu perusahaan agar
tujuan tercapai.
Manfaat
analisis pekerjaan akan memberikan informasi tentang aktivitas pekerjaan,
standar pekerjaan, konteks pekerjaan, persyaratan personalia (personel
requirement), perilaku manusia, dan alat-alat yang akan dipergunakan.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam Manajemen Sumber Daya Manusia sangat
bergantung pada informasi yang diperoleh dari analisis jabatan. Informasi yang
diperoleh dari analisis pekerjaan berguna bagi perencanaan dan implementasi
fungsi atau aktivitas manajemen sumber daya manusia yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Dessler,
Gary. 2006. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Indeks.
Cardoso,Faustino.2003.
Manajemen Sumber Daya Manusia.Yogyakara: Andi Yogyakarta.
Hasibuan,
Malayu. 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
Sedarmayanti.
2010. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Rafika Aditama.
Dessler,
Gary. 2006. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Indeks.hal 10
Hasibuan,
Malayu. 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
Cardoso,Faustino.2003.
Manajemen Sumber Daya Manusia.Yogyakara: Andi Yogyakarta.
Sedarmayanti.
2010. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Rafika Aditama.
Komentar
Posting Komentar