BAB 4 Penarikan SDM
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Suatu
perusahaan atau organisasi ingin meraih suatu keadaan dimana akan mendapatkan
untung yang sebesar-besarnya dan menjaga kelangsungan hidup perusahaaan atau organisasi
agar selalu dikenal oleh masyarakat. Keuntungan dan kelangsungan hidup perusahaan
atau organisasi tersebut didapatkan dari hasil kerja yang dilakukan selama kegiatan
perusahaan tersebut berlangsung.
Penarikan
adalah hal yang lebih kompleks dari apa yang dipikirkan oleh seorang manajer
atau usaha untuk mencari dan mempengaruhi tenaga kerja agar mau melamar
lowongan pekerjaan yang ada dalam suatu perusahaan. Kegiatan ini tidak hanya
melibatkan penempatan iklan atau memanggil agen pekerjaan, tetapi upaya penarikan
harus sesuai dengan rencana strategis perusahaan. Kegiatan kerja tersebut pasti
akan dilakukan oleh tenaga-tenaga SDM yang memang terlatih dibidangnya. Maka
dari itu perusahaan harus benar-benar memikirkan dengan serius untuk hal
penarikan SDM, karena apabila ada kesalahan dalam penarikan akan susah untuk
menggantikannya. Penarikan tenaga kerja adalah penarikan sumber daya manusia
dalam arti mencari atau melakukan penarikan tenaga kerja yang berkualitas.
Penarikan dibutuhkan untuk mencapai tujuan, yang dimana di dalam penarikan
tenaga kerja terdapat berbagai macam alternatif yang digunakan untuk menentukan
masa depan perusahaan atau organisasi tersebut.
1.2 Rumusan
Masalah
1. Apakah
Pengertian, Maksud, Dan Tujuan Dari Penarikan SDM ?
2. Apakah
Alasan-Alasan Dasar Penarikan ?
3. Bagaimanakah
Penarikan Dan Pengaruh Nilai ?
4. Bagaimanakah
Penarikan Orang-Orang Yang Diankat Secara Politik ?
5. Bagaimanakah
Pengaruh Eksternal Terhadap Penarikan ?
6. Bagaimanakah
Teknik-Teknik Penarikan Yang Disentralisasikan ?
7. Apakah
Name Request: Gabungan Politik Dan Pelayanan Sipil ?
1.3 Tujuan
Masalah
1. Untuk
mengetahui Pengertian, Maksud, Dan Tujuan Dari Penarikan SDM
2. Untuk
mengetahui Alasan-Alasan Dasar Penarikan
3. Untuk
mengetahui Penarikan Dan Pengaruh Nilai
4. Untuk
mengetahui Penarikan Orang-Orang Yang Diankat Secara Politik
5. Untuk
mengetahui Pengaruh Eksternal Terhadap Penarikan
6. Untuk
mengetahui Teknik-Teknik Penarikan Yang Disentralisasikan
7. Untuk
mengetahui Name Request: Gabungan Politik Dan Pelayanan Sipil
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian,
Maksud, Dan Tujuan Penarikan SDM
Penarikan (recruitment) adalah
proses pencarian dan pemikatan para calon karyawan (pelamar) yang mampu untuk
melamar sebagai karyawan. Proses ini dimulai ketika para pelamar dicari dan
berakir bila lamaran-lamaran (aplikasi) mereka diserahkan.
Definisi rekrutmen menurut Siagian
(2009:102) adalah “Proses mencari, menemukan, dan menarik pelamar untuk
dipekerjakan dalam suatu organisasi”. Sedangkan menurut Hasibuan (2007:40)
“Penarikan adalah usaha untuk mencari dan mempengaruhi tenaga kerja, agar mau
melamar lowongan pekerjaan yang ada dalam suatu perusahaan”.
Menurut Mathis and Jakson,
perekrutan adalah proses mengumpulkan sejumlah pelamar yang berkualifikasi
bagus untuk pekerjaan didalam organisasi atau perusahaan. Dalam arti kata,
merupakan penarikan (recruitment) adalah sebagai proses pencarian dan pemikatan
calon karyawan (pelamar) yang mampu untuk melamar sebagai karyawan
(Handoko,2001:69)
Dapat disimpulkan bahwa rekrutmen
merupakan proses mendapatkan sejumlah calon tenaga kerja yang kualifaid untuk
jabatan/pekerjaan utama di lingkungan suatu organisasi atau perusahaan.
Maksud Dari Penarikan
kegiatan
penarikan dilakukan dengan memperhatikan aspek legalitas yang berlaku dalam
rangka memperoleh sejumlah tenaga yang diperlukan.
Adapun maksud dan pentingnya
penarikan ini adalah :
· Menetukan kebutuhan penarikan tenaga
kerja
· Meningkatkan jumlah pelamar kerja
secara efisien
· Membantu meningkatkan rating proses
seleksi dengan mengurangi jumlah pelamar kerja yang underqualified atau
overqualified
· Mengurangi kemungkinan berhenti atau
mutasi setelah diangkat
· Memenuhi kewajiban organisasi
melaksanakan program pemerataan kesempatan kerja
· Mengidentifikasi dan menyiapkan
calon-calon tenaga kerja yang potensial
· Meningkatkan efektivitas organisasi
dan individu baik untuk jangka pendek maupun panjang
· Menilai efektivitas berbagai teknik
dan lokasi rekrutmen
Tujuan aktivitas penarikan terdiri
dari :
1.
Memikat
pelamar yang melamar kesempatan kerja
2.
Mempengaruhi
pelamar menerima tawaran yang mereka terima
3.
Sebagai
sarana pertukaran informasi
2.2 Alasan-Alasan
Dasar Penarikan
Ada beberapa alasan yang mendorong
suatu organisasi melakukan penarikan pegawai yaitu :
1.
Berdirinya
organisasi baru
2.
Adanya
perluasan kegiatan organisasi
3.
Terciptanya
pekerjaan dan kegiatan-kegiatan baru
4.
Adanya
pekerja yang pindah keorganisasi lain
5.
Adanya
pekerja yang berhenti, baik dengan hormat maupun tidak dengan hormat sebagai
tindakan punitive
6.
Adanya
pekerja yang berhenti karena memasuki usia pension
7.
Adanya
pekerja yang meninggal dunia
Agar kegiatan produktivitas disuatu
organisasi tidak mengalami gangguan yang diakibatkan oleh berbagai
factor, seperti yang disebutkan diatas maka organisasi tersebut dengan cara
melakukan penarikan pegawai tenaga kerja sesuai dengan kebutuhannya.
2.3 Penarikan
Dan Pengaruh Nilai
1. Penarikan
Setiap
organisasi, terlepas dari ukuran, produk, maupun jasa yang dihasilkannya, harus
merekrut pelamar kerja untuk mengisi ebuah posisi. Pengisian kekosongan di
dalam sebuah organisasi disebabkan oleh pertumbuhan, perubahan struktur dan
fungsi, ataupun putaran karyawanya. Hal tersebut memerlukan pencarian
orang-orang yang dapat memenuhi persyaratan posisi yang kosong. Sumber
karyawandapat berasal dari sumber internal maupun eksternal.
Bentuk pekerjaan yang harus diisi
serta berbagai kebijakan dan praktik organisasi akan menentukan yang mana dari
sumber tadi yang paling tepat untuk mengisi posisi yang lowong. Sebab itu,
salah satu aspek keputusan seleksi adalah pengambilan keputusan dimana akan
merekrut.
Sebelum perusahaan dapat menyeleksi
dan mengangkat pelamar yang mempunyai kualifikasi terbaik, terlebih dahulu
harus direkrut orang-orang untuk pekerjaan yang tersedia. Prosedur seleksi
karyawan yang efektif tergantung pada efektivitas proses rekrutmen. Kandidat-
kandidat yang menonjol tidak akan dapat diseleksi manakala mereka tidak
termasuk dalam kumpulan pelamar.
2. Pengaruh Nilai
Pengaruh lingkungan, terutama
nilai-nilai, terhadap MSDM sangat besar. Pengaruh tersebut tampak sangat nyata
dari nilai-nilai yang ditimbulkan oleh kondisi ekonomi, politik, social-budaya
dan teknologi, serta hukum. Pengaruh tersebut kemudian termanifestasikan dalam
berbagai bentuk outcome, berupa undang-undang, instruksi-instruksi pimpinan
eksekutif, aturan-aturan pembuatan keputusan dan interpretasi dan tinjauan dari
lembaga yudikatif. Nilai-nilai yang saling berpengaruh terhadap perilaku dan
tindakan dari lembaga-lembaga eksekutif, legislative dan yudikatif.
Nilai-nilai yang saling berkompetisi
dalam kondisi-kondisi ekonomi, politik, social-budaya dan perubahan teknologi
tertentu, dapat dimanifestasikan dalam jiwa dan semangat isi dari berbagai
bentuk peraturan, baik yang dihasilkan oleh lembaga eksekutif, legislative,
yang dianggap sensitive terhadap aspirasi dan keinginan rakyat, maupun
yudikatif. Misalnya, instruksi pimpinan dapat berbentuk keputusan mengenai
pengadaan posisi-posisi baru, atau peniadaan posisi-posisi tertentu,
berdasarkan suatu sistem merit yang ketat atau longgar hingga ke tingkat
penekanan yang tinggi terhadap obyektivitas penilaian performansi, yang sangat
mengutamakan nilai-nilai efisiensi dan efektifitas dibandingkan dengan
nilai-nilai hak pekerja dan keadilan social. Pengaruh nilai-nilai ini terasa
pada berbagai bentuk aktivitas MSDM, mulai dari aktivitas pencarian, rekrutmen,
hingga aktivitas sanksi.
Nilai-nilai disaring melalui
kondisi- kondisi ekonomi, politik, social/budaya dan teknologi, kemudian
menghasilkan berbagai peraturan perundang-undangan, baik oleh lembaga
eksekutif, legislative maupun yudikatif, yang semuanya akan berdampak terhadap
berbagai fungsi MSDM. Nilai-nilai keadilan social dan responsiveness politik
biasanya tercermin dalam berbagai aturan yang diloloskan oleh lembaga
legislative, yang dianggap wakil rakyat yang sensitif terhadap kebutuhan dan
aspirasinya.
1. Kondisi Ekonomi
Kondisi-kondisi ekonomi sangat
mempengaruhi tersedia/tidaknya lapangan kerja, baik disektor public maupun
sektor swasta, dan sekaligus menyebabkan meningkatnya tuntutan-tuntutan akan
pelayanan public. Misalnya, pada saat terjadi resesi ekonomi, lapangan kerja
menjadi sangat langka, maka nilai efisiensi mendapat perhatian dan penekanan
yang utama. Dan kecenderungan orang untuk pindah kerja pun menjadi sangat
berkurang. Dalam kondisi yang demikian, para majikan akan menjadi lebih
selektif dalam keputusan-keputusannya mengenai siapa (kualitas) dan berapa
(kuantitas) pelamar yang harus diterima dan dipekerjakan. Persaingan untuk
mendapatkan pekerjaan pun menjadi meningkat. Tuntutan-tuntutan bagi pelayanan
pun meningkat.
2. Kondisi Politik
Kondisi politik pun sangat
mempengaruhi fungsi-fungsi MSDM. Pergantian pimpinan-pimpinan politik, atau
pejabat-pejabat yang diangkat secara politik, perubahan pada prioritas-prioritas
program dan/atau pelayanan, serta pergantian kebijaksanaan-kebijaksanaan sangat
berpengaruh terhadap MSDM. Orang cenderung mempengaruhi fungsi-fungsi MSDM
berdasarkan keyakinan politiknya.
3. Kondisi Sosial/Budaya
Segala perubahan yang terjadi pada
lingkungan social budaya berpengaruh terhadap MSDM. Perubahan karakteristik
demografis, pendidikan, keyakinan, nilai, kesemuanya menuntut perhatian dan
penanganan tersendiri dalam MSDM. Misalnya, perubahan dalam jumlah tenaga kerja
wanita dipasar tenaga kerja, atau pertambahan usia manusia yang menambah jumlah
orang tua, semuanya menghendaki adanya perlakuan tertentu melalui MSDM.
Affirmative action dan/atau keadilan social, dalam keadaan yang demikian,
merupakan pilihan yang utama.
4. Kondisi Teknologi
Teknologi sangat mempengaruhi
fluktuasi lapangan kerja. Setiap perubahan teknologi akan membawa dampak yang
bermuara pada dua hal, yakni pada satu sisi, perubahan teknologi bisa membantu
menciptakan lapangan kerja baru. Pada sisi yang lain, dan barangkali merupakan
sisi negatifnya, perubahan teknologi bisa membawa akibat terjadinya pengurangan
lapangan kerja dan pengangguran. Karena banyak pekerjaa yang tadinya dikerjakan
oleh tenaga-tenaga manusia, mulai dikerjakan oleh mesin. Perubahan pada
teknologi tidak hanya berpengaruh pada tingkat suplai dan demand bagi berbagai
jenis keterampilan, tetapi juga berdampak terhadap perencanaan, teknik-teknik
rekrutmen, perhatian yang diutamakan dalam berbagai jenis pelatihan, jenis
keterampilan tertentu dan hubungannya dengan pasar, kemampuan sektor public
untuk bersaing bagi pekerjaan yang langka.
2.4 Penarikan
Orang-Orang Yang Diankat Secara Politik
Rekrutmen ini dilakukan tidak hanya
untuk menarik atau mendapatkan tenaga-tenaga yang bersifat teknis, tetapi juga
perekrutan dilakukan oleh lembaga-lembaga negara yang bersifat politis. Di
samping itu perekrutan juga dilakukan untuk pengisian jabatan-jabatan eksekutif
dan staf ahli.
Hal-hal yang merupakan salah satu
ciri perbedaan antara pimpinan yang diangkat secara politis dengan pimpinan
yang diangkat berdasarkan karir yaitu:
a.
Orang
yang diangkat/ditunjuk secara politis biasanya orientasi
kesetiaannya ke atas, yakni kepada pejabat yang mengangkatnya. Orang-orang tersebut dikenalkan dengan pegawai-pegawai dan jabatan-jabatannya dikarenakan kesetiaan politik dan psikologi yang telah mereka berikan kepada pejabat yang terpilih.
kesetiaannya ke atas, yakni kepada pejabat yang mengangkatnya. Orang-orang tersebut dikenalkan dengan pegawai-pegawai dan jabatan-jabatannya dikarenakan kesetiaan politik dan psikologi yang telah mereka berikan kepada pejabat yang terpilih.
b.
Mereka
biasanya tidak banyak mengetahui tentang struktur dan fungsi dari instansi
pemerintah yang mereka jalankan, walupun mungkin penunjukan mereka didasarkan
kepada latar belakang pengalaam yang dianggap berkaitan denagn posisi yang
mereka duduki
c.
Mereka
kebanyakan adalah orang-orang yang juga dianggap berhasil dalam usaha-usahanya
di sektor swasta.
d.
Orang-orang
yang terpilih secara politikini dalam hal-hal tertentu, mungkin melihat para
birokrat karir sebagai orang-orang yang tidak tida mempunyai daya tanggap
secara pilitik,, termasuk loyalitas mereka terhadap program-program atau
kebijakan-kebijakan dari pemerntah terdahulu. Oleh karena itu para pejabat
terpilih memandang proteksi-proteksi pelayanan sipil sebagai red tape
(berbelit-belit) yang memelihara pegawai-pegawai yang tidak produktif pada pegawai-pegawai
mereka.
2.5 Pengaruh
Eksternal Terhadap Penarikan
Tidak ada satupun organisasi yang
boleh mengabaikan apa yang terjadi di sekitarnya. Artinya dalam mengelola
organisasi, factor-faktor eksternal atau lingkungan harus selalu mendapat
perhatian. Juga dalam hal merekrut tenaga kerja baru.
Contoh dari factor eksternal dalam
proses rekrutmen antara lain :
1.
Tingkat
pengangguran
Apabila tingkat pengangguran tinggi,
maka para pencari tenaga kerja dapat bertindak lebih selektif karena banyaknya
pencari pekerjaan yang melamar, mungkin banyak diantaranya yang memenuhi
persyaratan melebihi ketentuan organisasi untuk mengisi lowongan yang tersedia.
Sebaliknya, apabila tingkat pengangguran rendah, maka para pencari tenaga kerja
tidak tepat jika “jual mahal” karena para pencari pekerjaan tidak terlalu sikar
memperoleh pekerjaan sesuai dengan pendidikan, pelatihan dan pengalamannya.
2. Kedudukan organisasi pencari
tenaga kerja baru via a vis organisasi lain yang bergerak di bidang
kegiatan yang sama atau menghasilkan barang dan jasa sejenis. Posisis
organisasi dibandingkan dengan organisasi lain yang bergerak dalam kegiatan
sejenis dapat digolongkan pada tiga keadaan: lebih kuat, relatif sama atau
lebih rendah. Kedudukan relatif suatu organisasi menentukan sikap para pencari
tenaja kerja dalam menyelenggarakan rekrutmen.
3. Langka tidaknya keahlian atau
ketrampilan tertentu
Di pasaran kerja, tersedia tidaknya
orang yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan tertentu bukanlah hal yang
konstan. Artinya, bisa saja terjadi bahwa pada suatu ketika terjadi kelangkaan
orang yang memiliki keahlian atau ketrampilan tertentu. Dalam hal ini, sikap
dan tindakan para pencari tenaga kerja baru pasti berbeda dengan jika tidak
menghadapi suasana kelangkaan.
4. Proyeksi angkatan kerja pada
umumnya
Berkaitan dengan factor demografi,
seperti laju pertumbuhan pendudukan, komposisi penduduk, jumlah dan jenis
luaran lembaga-lembaga pendidikan, presentase penduduk yang termasuk kategori
angkatan kerja dan sebagainya. Para pencari tenaga kerja akan dapat
memperkirakan apakah jumlah pelamar akan banyak atau tidak dan dengan
kualifikasi yang bagaimana.
5. Peraturan perundang-undangan di
bidang ketenagakerjaan
Berbagai peraturan
perundang-undangan merupakan faktor eksternal yang harus diperhitungkan dan
ditaati. Misalnya mengenai upah minimum, upah lembur, ketentuan memperkejakan
wanita dalam presentase tertentu, larangan mempekerjakan wanita di malam hari,
hak cuti pegawai, ketentuan mengenai cuti hamil bagi wanita yang sudah menikah,
juga larangan atau pembenaran mempekerjakan tenaga asing.
6. Praktek rekrutmen oleh
organisasi-organisasi lain
Teori manajemen sumber daya manusia
menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya manusia diselenggarakan
berdasarkan norma-norma etika yang berlaku di masyarakat. Akan tetapi
pengalaman menunjukkan tidak selalu demikian. Itulah sebabnya selalu terjadi
praktek-praktek pengelolaan organisasi, termasuk dalam hal rekruitmen yang
melanggar norma-norma etika tersebut.
7. Tuntutan tugas yang kelak akan
dikerjakan oleh para pekerja baru
Dalam hal ini terlihat bahwa
pentingnya arti peranan informasi tentang analisis pekerjaan. Dengan informasi,
para pencari tenaga kerja tidak lagi berpedoman kepada keinginan para manajer
yang akan mempekerjakan tenaga baru kelak, tetapi memperhitungkan faktor-faktor
lain yang memang harus diperhitungkan.
Hal penting yang perlu perhatian
antara lain:
·
Para
manajer yang memerlukan tenaga kerja baru sering hanya mengatakan agar para
pencari tenaga kerja berusaha mencari tenaga kerja baru yang paling memenuhi
syarat.
·
Sering
dalam mengelola sumber daya manusia pengertian “berpengalaman sekian tahun”
diartikan dengan “memiliki masa kerja sekian tahun”, padahal kedua hal itu
berbeda.
·
Mencari
tenaga kerja yang sudah berpengalaman memerlukan waktu, tenaga dan biaya yang
besar. Maka pengalaman yang dipersyaratkan benar-benar dituntut oleh pekerja
yang sedang lowong.
·
Tenaga
kerja yang sudah berpengalaman akan menuntut imbalan yang cukup tinggi. Jika
tidak yang bersangkutan mungkin tidak berminat bekerja pada organisasi yang
berusaha merekrutnya.
·
Jika
ternyata kemudian bahwa tenaga kerja baru itu dipekerjakan pada satuan kerja
yang tidak menuntut pengalaman, sangat mungkin tenaga kerja baru akan bosen
atau bahkan tidak berahan lama dalam organisasi.
Berbagai kendala yang mungkin
dihadapi dalam merekrut tenaga kerja harus dipertimbangkan secara matang karena
hanya dengan demikianlah waktu, tenaga dan biaya yang dikeluarkan sepadan
dengan hasil yang dicapai, yaitu tersedianya tenaga kerja baru yang memenuhi
berbagai persyaratan dan tuntutan tugas yang akan dilaksanakan.
2.6 Teknik-Teknik
Penarikan
Teknik-teknik rekrutmen, baik di
sektor publik maupun swasta dapat dilakukan melalui asas disentralisasikan atau
didesentralisasikan, tergantung keadaan (besarnya) organisasi, kebutuhan dan
jumlah calon pekerja yang hendak direkrut.
1.
Centralized
Recruitment TechniqiueTeknik (Rekrutmen yang Disentralisasikan)
Jika instansi tersebut mempunyai
beberapa ribu pekerja, dan jika departemen-departemen yang berbeda merekrut sejumlah
besar pekerja juru ketik atau teknis bagi tipe kedudukan yang sama, rekrutmen
yang disentralisasikan akan lebih sering dipakai karena lebih efisien biaya.
Jika rekrutmen disentralisasikan,
instansi yang mengelola sumber daya manusia itu akan bertanggungjawab untuk
meminta dari para manajer akan perkiraan-perkiraan periodik mengenai jumlah dan
tipe pekerja-pekerja baru yang dibutuhkan di waktu akan datang.
jenis pekerja, klasifikasi, dan
besarnya gaji
a. lokasi tugas (unit geografis dan
organisasi)
b. gambaran dari kewajiban-kewajiban
kerja.
c. Kualifikasi minimal
d. Tanggal mulai kerja
e. Prosedur-prosedur pelamaran,
f.
Tanggal
penutup bagi
2.
Decentralized
Recruitment Techniqiue (Teknik
Rekrutmen yang Didesentralisasikan)
Rekrutmen yang didesentralisasikan
terjadi di instansi-instansi yang relatif kecil, kebutuhan-kebutuhan rekrutmen
terbatas, dan dalam mana setiap instansi mempekerjakan berbagai tipe pekerja.
Rekrutmen dengan cara ini selalu dipakai untuk posisi-posisi khas profesional,
ilmiah, atau administratif bagi suatu instansi tertentu. Selama masa resesi, di
mana permintaan akan pekerjaan-pekerjaan pemerintah meningkat tetapi
lowongannya terbatas, maka penggunaan rekrutmen dengan cara ini lebih efektif.
2.7 Name
Request: Gabungan Politik Dan Pelayanan Sipil
Teknik Name Request (kombinasi
antara politik dan pelayanan sipil). Teknik kombinasi antar politik dan sipil
merupakan proses rekrutmen yang melibatkan nilai-nilai political
responsiveness dan managerial efficiency. Khusunya untuk
lowongan-lowongan jabatan profesional dan administratif tingkat atas, sistem
ini lebih banyak dipergunakan tingkat atas, teknik name request ini
sering dipergunakan, walaupun teknik ini tidak terlepas dari
kelemahan-kelemahan.
Kelemahan-kelemahan tersebut adalah:
1.
Karena
dapat mengarah sistem cronyism dalam pengangkatan seseorang dan bisa
bertentangan dengan tujuan-tujuan social equity atau efficiency dari
instansi-instansi.
2.
Karena
bisa membatasi hak-hak pegawai
3.
Dapat
secara tidak adil mengeluarkan nama-nama dari para pelamar yang telah ada lebih
dahulu dalam daftar
Pandangan lain berpendapat bahwa
melalui teknik ini instansi memungkinkan untuk mewawancarai dan melakukan
praseleksi terhadap pelamar yang memenuhi tuntutan kualifikasi. Dengan demikian
akan dapat menekan biaya terutama biaya surat menyurat.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Setiap organisasi dalam mencari dan
memilih calon-calon karyawan, tentunya akan berusaha sebaik mungkin untuk
mendapatkan yang terbaik dan yang paling sesuai dengan kebutuhan organisasi.
Untuk mendapatkan sumber daya yang berkualitas prima, maka proses pembinaannya
tidak bisa hanya sebatas selama masa kerja, melainkan harus dimulai sejak
proses rekrutmen. Rekrutmen yang tepat akan memudahkan proses penempatan yang
tepat, dan pada akhirnya akan melancarkan proses pencapaian tujuan organisasi.
Dan juga organisasi melakukan
seleksi untuk mencari dan memilih calon karyawan yang akan diterima atau
ditolak oleh organisasi. Dengan proses seleksi tersebut diharapkan organisasi
akan mendapat calon-calon karyawan yang benar-benar sesuai dengan jabatan yang
dibutuhkan oleh organisasi. Dalam hal ini karyawan yang terpilih akan merasa
puas apabila mereka ditempatkan pada jabatan yang sesuai denan kemampuan mereka
masing –masing.
Penempatan karyawan yang sesuai pada
posisi yang tepat bukan saja menjadi keinginan organisasi tetapi juga menjadi
keinginan karyawan. Dengan demikian karyawan yang bersangkutan dapat mengetahui
ruang lingkup pekerjaan yang dibebankan kepadanya, sehingga karyawan akan
merasa termotivasi dan bersemangat dalam bekerja dan memberikan kontribusi yang
maksimal bagi organisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Fitrianto,
Ridwan Juli. 2010. Rekrutmen
(online). Diakses pada tanggal 13 November 2018. (http://ridwanjuli.blogspot.co.id/2010/11/rekrutmen.html)
Sedarmayanti.
Manajemen Sumber Daya Manusia dan Manajemen PNS (Bandung : PT Refika
Aditama, 2011). hlm. 113.
Siagian,
Sondang P. 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
Komentar
Posting Komentar