BAB 1 Pendahuluan Ruang Lingkup Manajemen SDM
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Sumber Daya
Manusia merupakan aset yang paling berharga dalam perusahaan, tanpa manusia
maka sumber daya perusahaan tidak akan dapat mengahasilkan laba atau menambah
nilainya sendiri. Manajemen Sumber Daya Manusia didasari pada suatu konsep
bahwa setiap karyawan adalah manusia, bukan mesin, dan bukan semata menjadi
sumber daya bisnis. Manajemen Sumber Daya Manusia berkaitan dengan kebijakan
dan praktek-praktek yang perlu dilaksanakan oleh manajer, mengenai aspek-aspek
Sumber Daya Manusia dari Manajemen Kerja.
Sumber daya
manusia merupakn modal dasar pembangunan nasional, oleh karena itu maka
kualitas SDM senantiasa harus dikembangkan dan diarahkan agar bisa mencapai
tujuan yang diharapakan. Dalam mewujudkan misi dan visi perusahaan maka
organisasi dapat memanfaatkan sumber daya manusia yang dimilikinya seoptimal
mungkin, oleh karena itu untuk mewujudkanya, diperlukan SDM yang terampi dan
handal di bidangnya. Salah satu caranya yaitu dengan meningkatkan kompetensi individu
karyawan pada perusahaan tersebut.
Oleh karena
itu dalam makalah ini kami akan membahas tentang Manajemen Sumber Daya Manusia
yang berkaitan dengan fungsi-fungsi manajemen, fungsi-fungsi operasional SDM,
variable-variabel lain yang mempengaruhi keberhasilan organisasi, sikap kerja
serta perilaku karyawan.
1.2
Rumusan Masalah
1. Apakah
pengertian dari Manajemen ?
2. Bagaimanakah
fungsi-fungsi Manajemen ?
3. Apakah
pengertian dari Sumber Daya Manusia ?
4. Bagaimanakah
fungsi-fungsi Operasional SDM ?
5. Apa
sajakah variabel-variabel lain yang mempengaruhi keberhasilan organisasi ?
6. Apakah
pengertian dari sikap kerja ?
7. Apakah
pengertian dari semangat kerja ?
1.3 Tujuan
Masalah
1. Untuk
mengetahui pengertian dari Manajemen.
2. Untuk
mengetahui fungsi-fungsi Manajemen.
3. Untuk
mengetahui pengertian dari Sumber Daya Manusia.
4. Untuk
mengetahui fungsi-fungsi Operasional SDM.
5. Untuk
mengetahui variabel-variabel lain yang mempengaruhi keberhasilan organisasi.
6. Untuk
mengetahui pengertian dari sikap kerja.
7. Untuk
mengetahui pengertian dari semangat kerja.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Manajemen
Manajemen
berasal dari kata kerja to manage (bahasa inggris) yang artinya
mengurus, mengatur, melaksanakan dan mengelola.
Menurut
para ahli:
1.
George R.Terry
Dalam bukunya Principles of Management
mendefinisikan bahwa manajemen adalah proses pencapaian tujuan yang telah
ditentukan sebelumnya melalui kegiatan yang dilakukan oleh orang lain.
2.
Harold Koontz dan C.O’Donnel
Dalam bukunya Principles of Management,
Analyses of Managerial Function mengatakan bahwa manajemen adalah upaya
mencapai tujuan organisasi melalui kegiatan orang lain.
3.
Henry Fayol
Dalam bukunya General and Industrial
Management, mendefinisikan bahwa manajemen adalah proses perencanaan,
pengorganisasian, pengkomandoan, pengkoordinasian, dan pengendalian yang
dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditentukan.
4.
John F.Mee
Yang menurut Dr.S.P.Siagian,MPA dalam
bukunya Filsafat Adminstrasi menyatakan bahwa manajemen sebagai proses
kegiatan perencanaan pengorganisasian, pemberian motivasi, dan pengawasan
dilakukan suatu organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan
sebelumnya.
2.2 Fungsi-Fungsi
Manajemen
Dalam
Manajemen terdapat fungsi-fungsi manajemen yang terkait erat di dalamnya. Pada
umumnya ada empat (4) fungsi manajemen yang banyak dikenal masyarakat yaitu
fungsi perencanaan (planning), fungsi pengorganisasian (organizing), fungsi
pengarahan (directing) dan fungsi pengendalian (controlling). Untuk fungsi
pengorganisasian terdapat pula fungsi staffing (pembentukan staf). Para manajer
dalam organisasi perusahaan bisnis diharapkan mampu menguasai semua fungsi
manajemen yang ada untuk mendapatkan hasil manajemen yang maksimal.
Di
bawah ini akan dijelaskan arti definisi atau pengertian masing-masing fungsi
manajemen – POLC :
1.
Fungsi Perencanaan / Planning
Fungsi perencanaan adalah suatu kegiatan
membuat tujuan perusahaan dan diikuti dengan membuat berbagai rencana untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan tersebut.
2.
Fungsi Pengorganisasian / Organizing
Fungsi perngorganisasian adalah suatu
kegiatan pengaturan pada sumber daya manusia dan sumberdaya fisik lain yang
dimiliki perusahaan untuk menjalankan rencana yang telah ditetapkan serta
menggapai tujuan perusahaan.
3.
Fungsi Pengarahan / Directing /
Leading
Fungsi pengarahan adalah suatu fungsi
kepemimpinan manajer untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi kerja secara
maksimal serta menciptakan lingkungan kerja yang sehat, dinamis, dan lain
sebagainya.
4.
Fungsi Pengendalian / Controling
Fungsi pengendalian
adalah suatu aktivitas menilai kinerja berdasarkan standar yang telah dibuat
untuk kemudian dibuat perubahan atau perbaikan jika diperlukan.
2.3 Perngertian
Sumber Daya Manusia
Sumber
daya manusia atau biasa disingkat menjadi SDM potensi
yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk
sosial yang adaptif dan transformatif yang mampu mengelola
dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di alam menuju
tercapainya kesejahteraan kehidupan dalam tatanan yang seimbang dan
berkelanjutan. Dalam pengertian praktis sehari-hari, SDM lebih dimengerti
sebagai bagian integral dari sistem yang membentuk suatu organisasi. Oleh
karena itu, dalam bidang kajian psikologi, para praktisi SDM harus mengambil
penjurusan industri dan organisasi.
Sebagai
ilmu, SDM dipelajari dalam manajemen sumber
daya manusia atau (MSDM).
Dalam bidang ilmu ini, terjadi sintesa antara ilmu manajemen dan psikologi.
Mengingat struktur SDM dalam industri-organisasi dipelajari oleh ilmu
manajemen, sementara manusia-nya sebagai subyek pelaku adalah bidang kajian
ilmu psikologi.
Dewasa
ini, perkembangan terbaru memandang SDM bukan sebagai sumber daya belaka,
melainkan lebih berupa modal atau aset bagi institusi atau organisasi. Karena
itu kemudian muncullah istilah baru di luar H.R. (Human Resources), yaitu H.C.
atau Human Capital. Di sini SDM dilihat bukan sekedar sebagai aset utama,
tetapi aset yang bernilai dan dapat dilipatgandakan, dikembangkan (bandingkan
dengan portfolio investasi) dan juga bukan sebaliknya sebagai liability
(beban,cost). Di sini perspektif SDM sebagai investasi bagi institusi atau
organisasi lebih mengemuka.
2.4 Fungsi-Fungsi
Operasional SDM
Fungsi operasional dalam Manajemen
Sumber Daya Manusia merupakan basic (dasar) pelaksanaan proses MSDM yang
efisien dan efektif dalam pencapaian tujuan organisasi/perusahaan. Fungsi
operasional tersebut terbagi 8 (delapan), secara singkat sebagai berikut:
1.
Perencanaan
(Planning) adalah
proses penentuan langkah-langkah yang akan dilakukan di masa datang. Fungsi
perencanaan meliputi:
·
Menganalisis
pekerjaan yang ada
·
Menyusun
uraian pekerjaan
·
Menyusun
persyaratan pekerjaan
·
Menentukan
sumber-sumber penarikan SDM
2.
Pengadaan
(Procrutment)
adalah proses penarikan, seleksi, penempatan, orientasi dan induksi untuk
mendapatkan karyawan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Fungsi pengadaan
meliputi:
·
Mengumumkan
dan menerima surat lamaran
·
Melakukan
seleksi
·
Melakukan
orientasi dan pelatihan pratugas
·
Pengangkatan
SDM
·
Penempatan
SDM
3.
Pengembangan
(Development)
adalan proses peningkatan ketrampilan teknis, teoristik, konseptual dan moral
karyawan melalui pendidikan dan pelatihan. Fungsi pengembangan meliputi:
·
Penilaian
prestasi kerja
·
Perencanaan
karir
·
Pendidikan
dan pelatihan
·
Pemberian
tugas
·
Mutasi
dan promosi
·
Motivasi
dan disiplin kerja
4.
Kompensasi
(Compesation) adalan pemberian balas jasa
langsung (direct) dan tidak langsung (inderct), uang atau barang kepada
karyawan sebagai imbalan jasa yang diberikannya kepada perusahaan. Fungsi
kompensasi meliputi:
·
Penggajian dan pengupahan
·
Pemberian tunjangan-tunjangan
·
Pangkat dan jabatan
·
Pemberian penghargaan
5.
Pengintegrasian
(Integration) adalah kegiatan untuk mempersatukan
kepentingan perusahaan dan kebutuhan karyawan, agar tercipta kerjasama yang
serasi dan saling menguntungkan.
6.
Pemeliharaan
(Maintenance) adalah kegiatan untuk memelihara
atau meningkatkan kondisi fisik, mental dan loyalitas karyawan, agar mereka
bekerja sama sampai pensiun. Fungsi pemeliharaan meliputi:
·
Pemeliharaan kebugaran fisik dan
jiwa raga
·
Pemeliharaan keamanan dan
keselamatan kerja
·
Pemberian jaminan perumahan
·
Pemeliharaan kesehatan
·
Pemeliharaan kesejahteraan rumah
tangga SDM
·
Pemeliharaan hubungan kerja dan hak
asasi SDM
7.
Kedisiplinan
adalah keinginan dan kesadaran untuk
menaati peraturan-peraturan perusahaan dan norma-norma social.
8.
Pemberhentian
(separation) adalah putusnya hubungan kerja
seseorang dari suatu perusahan. Dalam fungsi ini manajer SDM mengatur hak-hak
para pensiun yang dapat diberikan kepada mereka yang telah berjasa besar
terhadap perusahaan.
2.5 Variabel-Variabel
Lain Yang Mempengaruhi Keberhasilan Organisasi
Dari
uraian di atas dapat diketahui selain keadilan dalam mengelola SDM keberhasilan
organisasi juga di pengaruhi oleh karakteristik organisasi, karakteristik
pekerjaan, karakteristik individu, sikap dan perilaku karyawan, secara langsung
maupun tidak langsung.
1.
Karakteristik
Individu
Karakter individu terdiri atas jenis kelamin, tingkat
pendidikan, umur, masa kerja, status perkawinan,, jumlah tanggungan, dan
posisi, peneliti peneliti dalam bidang manajemen SDM dan perilaku
organisasi banyak melakukan penelitian tentang hubungan karakteristik
individu dengan sikap dan perilaku karyawan (panggabean,2001;2002)
2.
Karakteristik
Organisasi
Karakteristik organisasi meliputi kompleksitas , formalisasi
,dan sentralisasi kompleksitas mencerminkan jumlah unit yang ada dalam
organisasi formalisasi merujuk kepada banyaknya pelaksanaan tugas yang
bersandarkan kepada peraturan , sedangkan sentralisasi di definisikan
sebagai siapa yang dapat mengambil keputusan (pemimpin atau pelaksana)
sentralisasi ada jika keputusan di tangan pemimpin, sebaliknya akan di katakana
ada desentralisasi jika jawaban tentang apa, bagaimana, kapan, dan dengan siapa
pekerjaan akan dilaksanakan diputuskan oleh pelaksana semakin banyak pertanyaan
itu dapat di jawab sendiri oleh pelaksana maka semakin dapat dikatakan ada
desentralisasi, bagaiman pengaruh karakteristik organisasi terhadap sikap dan
perilaku karyawan banyak di lakukan oleh para peneliti di bidang teori
organisasi dan perilaku organisasi (Melcher 1976)
3.
Karakteristik
Pekerjaan
Karakteristik pekerjaan terdiri atas keanekaragaman tugas,
identitas tugas, keberartian tugas,otonomi dan umpan balik berbagai
penelitian dalam bidang manajemen SDM dan perilaku organisasi banyak
meneliti hubungan antara karakteristik tugas dan perilaku. Berikut
dibahas pengertian dari masing masing konsep:
·
Keanekaragaman
Tugas
Merujuk kepada adanya kemungkinan bagi karyawan untuk
melaksanakan kegiatan , prosedur, dan bahkan peralatan yang berbeda pekerjaan
yang beraneka ragam biasanya di pandang sebagai pekerjaan yang menantang
karena mereka menggunakan keterampilan yang
·
Identitas
Tugas
Memungkinkan karyawan mengerjakan
sebuah pekerjaan secara menyeluruh sanagt terspesialisasi cenderung menciptakan
tugas yang rutin dan mengakibatkan seseorang hanya mengerjakan satu
bagian saja dari keseluruhan pekerjaan , hal ini menimbulkan adanya perasaan tidak
melakukan apa apa oleh karena itu dengan memperluas tugas tugas yang
dapat meningkatkan perasaan mangerjakan seluruh pekerjaan berarti meningkatkan
identitas tugas.
·
Keberartian
Tugas
Merujuk kepada besarnya pengaruh
dari pekerjaan yang dilakukan seseorang terhadap pekerjaan orang lain. Sangat
penting bagi seseorang untuk mempunyai perasaan melakukan pekerjaan yang sangat
berarti bagi perusahaan maupun masyarakat untuk itu adalah penting apabila
pemimpin memberitahukan di depan orang lain bahwa pekerjaannya sangat berarti
bagi perusahaan.
·
Otonomi
Merujuk kepada adanya ide bahwa
karyawan dapat mengendalikan sendiri tugas tugasnya hal ini penting untuk
menimbulkan rasa tanggung jawab .cara yang umum di pakai adalah melalui
manajemen berdasarkan sasaran.karena dengan cara ini karyawan memiliki
kesempatan untuk menentukan sendiri tujuan pribadi dan tujaun kerjanya.
·
Umpan balik
Merujuk kepada informasi yang
diterima oleh pekerja tentang seberapa baiknya ia melaksanakan tugasnya .
penelitian tentang hubungan karakteristik pekerjaan dengan sikap dan perilaku
organisasi banyak dilakukan oleh peneliti di bidang MSDM dan perilaku
organisasi
2.6
Sikap Kerja
Didalam kamus bahasa Indonesia
menjelaskan sikap adalah perbuatan dan sebagainya yang berdasarkan pendirian (Wjs.Poerwadarminta,2002:944).
Sedangkan kerja adalah melakukan sesuatu (Wjs. Poerwadarminta, 2002:492). Menurut pengertian dari Agus Maulana, sikap kerja karyawan adalah cara kerja karyawan didalam mengkomunikasikan suasana karyawan kepada pimpinan ataupun perusahaan. Karyawan merasakan adanya kesenangan yang mendalam terhadap pekerjaan yang dilakukan.
Sedangkan kerja adalah melakukan sesuatu (Wjs. Poerwadarminta, 2002:492). Menurut pengertian dari Agus Maulana, sikap kerja karyawan adalah cara kerja karyawan didalam mengkomunikasikan suasana karyawan kepada pimpinan ataupun perusahaan. Karyawan merasakan adanya kesenangan yang mendalam terhadap pekerjaan yang dilakukan.
Loyal adalah patuh, setia (Wjs.
Poerwadarminta, 2002:609). Dari pengertian diatas, kesimpulannya adalah suatu
kecenderungan karyawan untuk pindah ke perusahaan lain. Apabila karyawan
bekerja pada suatu perusahaan, dan perusahaan tersebut telah memberikan
fasilitas – fasilitas yang memadai dan diterima oleh karyawannya, maka
kesetiaan karyawan terhadap perusahaan akan semakin besar, maka timbul dorongan
yang menyebabkan karyawan melakukan pekerjaan menjadi lebih giat lagi.
Fasilitas
– fasilitas yang diterima oleh karyawan sehingga karyawan mau bekerja sebaik
mungkin dan tetap loyal pada perusahaan, hendaknya perusahaan memberikan
imbalan yang sesuai kepada karyawannya. Semua itu tergantung pada situasi dan
kondisi perusahaan tersebut serta tujuan yang ingin dicapai.
Untuk itu perusahaan mengemukakan
beberapa cara:
a. Gaji yang cukup
b. Memberikan kebutuhan rohani.
c. Sesekali perlu menciptakan suasana
santai.
d. Menempatkan karyawan pada posisi
yang tepat.
e. Memberikan kesempatan pada karyawan
untuk maju.
f.
Memperhatikan
rasa aman untuk menghadapi masa depan.
g. Mengusahakan karyawan untuk
mempunyai loyalitas.
h. Sesekali mengajak karyawan
berunding.
i.
Memberikan
fasilitas yang menyenangkan. (Nitisemito, 1991:167).
Sebab – sebab turunnya loyalitas dan
sikap kerja itu dikarenakan banyak sebab misalnya, upah yang mereka terima
tidak sesuai dengan pekerjaannya, tidak cocoknya dengan gaya perilaku pemimpin,
lingkungan kerja yang buruk dan sebagainya. Untuk memecahkan persoalan
tersebut, maka perusahaan harus dapat menemukan penyebab dari turunnya
loyalitas dan sikap kerja karyawan itu disebabkan pada prinsipnya turunnya
loyalitas dan sikap kerja karyawan itu disebabkan oleh ketidakpuasan para
karyawan. Adapun sumber ketidakpuasan bisa bersifat material dan non material
yang bersifat material antara lain: rendahnya upah yang diterima, fasilitas
minimum.
Sedangkan yang non material antara
lain: penghargaan sebagai manusia, kebutuhan – kebutuhan yang berpartisipasi
dan sebagainya (S. Alex Nitisemito, 1991:167).
Indikasi – indikasi turunnya
loyalitas dan sikap kerja karyawan antara lain:
1.
Turun/
rendahnya produktivitas kerja.
Turunnya
produktivitas kerja ini dapat diukur atau diperbandingkan dengan waktu
sebelumnya. Produktivitas kerja yang turun ini dapat terjadi karena kemalasan
atau penundaan kerja.
2.
Tingkat
absensi yang naik.
Pada
umumnya bila loyalitas dan sikap kerja karyawan turun, maka karyawan akan malas
untuk datang bekerja setiap hari. Bila ada gejala – gejala absensi naik maka
perlu segera dilakukan penelitian.
3.
Tingkat
perpindahan buruh yang tinggi.
Keluar
masuknya karyawan yang meningkat tersebut terutama adalah karena tidak
senangnya para karyawan bekerja pada perusahaan. Untuk itu mereka berusaha
mencari pekerjaan lain yang dianggap sesuai. Tingkat perpindahan buruh yang
tinggi selain dapat menurunkan produktivitas kerja, juga dapat mempengaruhi
kelangsungan jalannya perusahaan.
4.
Kegelisahan
dimana – mana.
Loyalitas
dan sikap kerja karyawan yang menurun dapat menimbulkan kegelisahan sebagai
seorang pemimpin harus mengetahui bahwa adanya kegelisahan itu dapat terwujud
dalam bentuk ketidak terangan dalam bekerja, keluh kesah serta hal – hal yang
lain.
5.
Tuntutan
yang sering terjadi.
Tuntutan
yang sebetulnya merupakan perwujudan dan ketidakpuasan, dimana pada tahap
tertentu akan menimbulkan keberanian untuk mengajukan tuntutan.
6.
Pemogokan.
Tingkat
indikasi yang paling kuat tentang turunnya loyalitas dan sikap kerja karyawan
adalah pemogokan. Biasanya suatu perusahaan yang karyawannya sudah tidak merasa
tahan lagi hingga memuncak, maka hal itu akan menimbulkan suatu tuntutan, dan
bilamana tuntutan tersebut tidak berhasil, maka pada umumnya para karyawan
melakukan pemogokan kerja. (S. Alex Nitisemito,1991:163 – 166).
Pada kategori usia para karyawan yang berbeda menunjukkan aksentuasi loyalitas yang berbeda pula seperti uang diuraikan berikut ini:
Pada kategori usia para karyawan yang berbeda menunjukkan aksentuasi loyalitas yang berbeda pula seperti uang diuraikan berikut ini:
1) Angkatan kerja yang usianya di atas
lima puluh tahun menunjukkan loyalitas yang tinggi pada organisasi. Mungkin
alasan – alasan yang menonjol ialah bahwa mereka sudah mapan dalam
kekaryaannya, penghasilan yang memadai, memungkinkan mereka menikmati taraf
hidup yang dipandangnya layak. Banyak teman dalam organisasi, pola karirnya jelas,
tidak ingin pindah, sudah “terlambat” memulai karier kedua, dan dalam waktu
yang tidak terlalu lama akan memasuki usia pensiun. Seperti yang terdapat dalam
perusahaan UD. DUTA RASA, dalam perusahaan ini ada beberapa karyawan tetapnya
adalah karyawan dengan umur sekitar 50an dan sudah bekerja cukup lama dalam
perusahaan sedangkan para karyawan kontraknya adalah karyawan yang masih muda.
2)
Tenaga kerja yang berada pada
kategori usia empat puluhan menunjukkan loyalitas pada karir dan jenis profesi
yang selama ini ditekuninya. Misalnya, seseorang yang menekuni karir di bidang
keuangan akan cenderung “ bertahan” pada bidang tersebut meskipun tidak berarti
menekuninya hanya dalam organisasi yang sama. Karena itu pindah ke profesi
lain, tetapi bergerak di bidang yang sama, bukanlah merupakan hal yang aneh.
Barangkali alasan pokoknya terletak pada hasrat untuk benar – benar mendalami
bidang tertentu itu karena latar belakang pendidikan dan pelatihan yang pernah
ditempuh, bakat, minat, dan pengalaman yang memungkinkannya menampilkan kinerja
yang memuaskan yang pada gilirannya membuka peluang untuk promosi, menambah
penghasilan, dan meniti karir secara mantap.
3)
Tenaga kerja dalam kategori 30 – 40
tahun menunjukkan bahwa loyalitasnya tertuju pada diri sendiri. Hal ini dapat
dipahami karena tenaga kerja dalam kategori ini masih terdorong kuat untuk
memantapkan keberadaannya, kalau perlu berpindah dari satu organisasi ke
organisasi lain dan bahkan mungkin juga dari satu profesi ke profesi lain.
Disamping itu pula didukung oleh tingkat kebutuhan yang semakin lama semakin
meningkat tetapi tidak diimbangi dengan pemasukan yang cukup sehingga banyak
para pekerja yang mencari pekerjaan lain yang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya
sehari – hari.
4)
Bagi mereka yang lebih muda dari itu,
makna loyalitas belum diserapi dan kecenderungan mereka masih lebih mengarah
kepada gaya hidup santai, apabila mungkin disertai dengan kesempatan “berhura –
hura” Pada kenyataan sehari – hari banyak sekali terjadi kecurangan –
kecurangan yang dilakukan oleh para karyawan yang umumnya mempunyai umur
relatif muda hal itu juga dipicu oleh tingkat angan – angan yang tinggi, tetapi
tidak diiringi oleh tingkat kerajinan yang tinggi dari dalam dirinya sendiri,
oleh karena itu tingkat penganggguran semakin lama semakin meningkat (S. Alex
Nitisemito, 1991:170-171).
2.7 Perilaku
Karyawan
Perilaku
adalah tingkah laku yang terdiri atas tingkah laku yang tidak dapat dari luar,
misalnya keinginan untuk pindah (intent to leave) dan ada yang dengan
jelas dilihat dari luar, misalnya perputaran tenaga kerja dan ketidakhadiran.
Dari
teori dapat diketahui bahwa ketidakpuasan atau kepuasan yang rendah akan
meningkatkan perputaran tenaga kerja dan ketidakhadiran. Konsep-konsep ini
paling sering digunakan untuk memahami semangat kerja karyawan (Talacchi,
1960). Berikut diuraikan cara pengukurannya.
1.
Perputaran
Tenaga Kerja
Alat
ukur yang digunakan untuk mengukur perputaran tenaga kerja sudah pernah dbahas
dalam bab sebelumnya dimana datanya dapat diperoleh dari bagian personalia,
namun karena untuk memperoleh data dari masing-masing karyawan yang dijadikan
responden dalam penelitian pada umumnya sukar untuk diperoleh, maka untuk itu
digunakan konsep perilaku yang tidak langsung dapat dilihat yaitu keinginan
untuk pindah (intent to leave).
2.
Keinginan
untuk Pindah
Keinginan
untuk pindah dapat diukur dengan mengembangkan pertanyaan yang dikemukakan oleh
Hom and Griffeth, 1991; 1995; Motowildo, 1983, yaitu sebagai berikut.
·
I
have been thingking about quitting the present job.
·
I
have been evaluating the cost of quitting my job.
·
I
intent to quit.
·
I
will quit my job uin the next six months.
3.
Ketidakhadiran
Dari
uraian sebelumnya dapat diketahui bahwa ketidakhadiran adalah kegagalan untuk
hadir ditempat kerja pada hari kerja. Faktor-faktor penyebab perilaku ini
banyak diteliti karena dapat mempengaruhi prestasi kerja.
4.
Hubungan
Ketidakhadiran dengan Kepuasan Kerja
Penelitian
tentang hubungan ketidakpuasan dengan ketidakhadiran adalah rumit. Pandangan
tradisional mengemukakan bahwa ketidakhadiran disebabkan oleh ketidakpuasan
(Porter and Steers, 1973), namun kemudian para peneliti mengemukakan bahwa
ketidakhadiran yang menyebabkan ketidakpuasan kerja (Goodman and Atkin, 1984;
Rhodes and Steers, 1990). Sehingga akhirnya ada pula yang mengemukakan bahwa
hubungannya timbal balik (Clegg, 1983) dimana ia berpendapat bahwa dengan
menggunakan beberapa pengujian yang berkelanjutan (few longitudinal
test) ditemukan bahwa ketidakhadiran lebih sering mempengaruhi
ketidakpuasan dan tidak sebaliknya.
5.
Hubungan
Ketidakhadiran dengan Prestasi Kerja
Selain
dengan kepuasan kerja, ketidakhadiran juga mempunyai hubungan yang negatif
dengan prestasi kerja. Bycio (1992) mengemukakan bahwa ketidakhadiran
dapat mengakibatkan rendahnya kinerja.
6.
Hubungan
Ketidakhadiran dengan Gaya Kepemimpinan John dan Nicholson (1982)
Mengemukakan
bahwa ketidakhadiran dapat mempengaruhi gaya kepemimpinan terhadap
ketidakhadiran itu. Para pemimpin akan memberikan sanksi pada karyawan yang
jarang masuk dan akan mengurangi pemberian penghargaan kepada mereka.
7.
Pengaruh
Karakteristik Individu dan Kerumitan Pekerjaan Terhadap Hubungan Kepuasan Kerja
dengan Ketidakhadiran, Prestasi Kerja dan Gaya Kepemimpinan.
Hubungan
antara kepuasan kerja dengan ketidakhadiran pada umumnya dapat dipengaruhi oleh
karakteristik individu, misalnya usia dan masa kerja (Nicholson, 1977),
kerumitan pekerjaan (House dan Mitchell, 1974), dan gaya kepemimpinan (Clegg,
1983). Gaya kepemimpinan yang mendukung (supportive leadership) dapat
menurunkan ketidakhadiran bagi pekerjaan yang sederhana dibandingkan dengan
yang rumit.
8.
Alat
ukur yang Digunakan
Terlepas
dari apakah sebagai penyebab atau sebagai akibat, ketidakhadiran, sebagaimana
halnya dengan keinginan untuk pindah, konsep ini juga perlu diukur dengan
sejumlah pertanyaan jika data ketidakhadiran dari masing-masing responden sulit
untuk diperoleh.
Hammer dan Landau, 1982; Harisson
dan Hulin, 1989 mengukur ketidakhadiran dengan menggunakan tiga macam data,
yaitu:
1.
Waktu
yang hilang (jumlah jam ketidakhadiran yang tidak dicatat)
2.
Frekuensi
(jumlah waktu ketidakhadiran yang tidak tercatat)
3.
Ketidakhadiran
yang tercatat (jumlah ketidakhadiran), data yang dipakai adalah data selama 12
bulan.
2.8 Semangat
Kerja
Hasley
(2001) menyatakan bahwa semangat kerja atau moral kerja itu adalah sikap
kesediaan perasaan yang memungkinkan seorang karyawan untuk menghasilkan kerja
yang lebih banyak dan lebih tanpa menambah keletihan, yang menyebabkan karyawan
dengan antusias ikut serta dalam kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha kelompok
sekerjanya, dan membuat karyawan tidak mudah kena pengaruh dari luar, terutama
dari orang-orang yang mendasarkan sasaran mereka itu atas tanggapan bahwa
satu-satunya kepentingan pemimpin perusahaan itu terhadap dirinya untuk
memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya darinya dan memberi sedikit
mungkin.
Sedangkan
Siswanto (2000, p.35) mendefinisikan semangat kerja sebagai keadaan psikologis
seseorang. Semangat kerja dianggap sebagai keadaan psikologis yang baik bila
semangat kerja tersebut menimbulkan kesenangan yang mendorong seseorang untuk
bekerja dengan giat dan konsekuen dalam mencapai tujuan yang ditetapkan oleh
perusahaan. Menurut Nitisemito (2002, p.56) definisi dari semangat kerja adalah
kondisi seseorang yang menunjang dirinya untuk melakukan pekerjaan lebih cepat
dan lebih baik didalam sebuah perusahaan.
Aspek-aspek
semangat kerja :
1. Kegairahan
2. Kekuatan
untuk melawan frustasi
3. Kualitas
untuk bertahan
4. Semangat
kelompok
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sumber
Daya Manusia merupakan asset terpenting bagi perusahaan demi mewujudkan tujuan
yang diharapkan untuk itu kualitas sumber daya manusia harus senantiasa
dikembangkan dan diarahkan.
Dalam
mewujudkannya perusahaan harus menjalankan fungsi-fungsi manajemen seperti
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan serta pengendalian.
Selain
itu perusahaan juga harus memberikan fasilitas-fasilitas yang memadai bagi
karyawan untuk menumbuhkan rasa loyalitas yang besar terhadap perusahaan dan
dapat mendorong kinerja karyawan menjadi lebih giat lagi.
DAFTAR
PUSTAKA
Faustino Cardooso Gomes, 2000, Manajemen Sumber Daya Manusia, Cetakan Keempat, Penerbit Andi Offset, Yogyakarta.
Gouzali Saydam, 1996, Manajemen Sumber Daya Manusia (Human Resources Management), Jilid 2, Cetakan Pertama, Penerbit PT Gunung Agung, Jakarta.
T. Hani Handoko, Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia, BPFE, Yogyakarta.
dewiramli.blogspot.com/2011/11/perbedaan-manajemen-sumber-daya-manusia.html.
id.wikipedia.org/wiki/Sumber_daya_manusia.
kartikagaby.wordpress.com/2012/04/01/fungsi-fungsi-operasional-sdm/
princessfanya.blogspot.com/2012/10/manajemen-sumber-daya-manusia.html.
pitersadabe.blogspot.com/2012/03/perilaku-karyawan.html.
http://www.damandiri.or.id/file/ekoesthywatiunairbab1.pdf
Komentar
Posting Komentar